Sabtu, 05 Mei 2012

psikologi sosial


PERILAKU SOSIAL INDIVIDU

Psikologi sosial adalah cara kita berpikir, merasa, dan bertindak dalam lingkungan sosial, dan pengaruh lingkungan sosial terhadap perasaan dan tindakan itu sendiri. Psikologi sosial mendasarkan pendekatannya pada pengamatan prilaku manusia:
1.      Prilaku merupakan fungsi dari orang dan situasinya, pada poin ini mengkhususkan telaahan tentang perbedaan-perbedaan individu dalam bertindak dalam situasi yang sama
2.      Yang mendasari psikologi sosial adalah jika seseorang menentukan situasi sebagai suatu hal yang nyata, artinya orang tidak hanya akan bereaksi pada objek tetapi penafsiran terhadap objek itu sendiri. Karena alasan ini psikologi sosial berkaitan dengan proses penghayatan sosial dan penafsiran sosial. Kita dapat mulai memahami prilaku sosial seseorang melalui pemahaman tentang pengolahan informasi sosial yang kita peroleh.

 
PENGOLAHAN INFORMASI SOSIAL
Setiap interaksi sosial akan menimbulkan dua pertanyaan. Bagaimana orang ini dan mengapa orang ini berprilaku seperti itu. Pertanyaan pertama berkenaan dengan pembentukan kesan, pertanyaan kedua menyangkut atribusi kausal yaitu menghubungkan prilaku seseorang dengan berbagai sebab. Skema adalah struktur ingatan yang disederhanakan dan proses untuk mendapatkan skema itu disebut pengolahan skematik atau bagaimana menafsirkan informasi yang masuk yang menyebabkan kita dapat mengorganisasi dan  sejumlah besar informasi denghan secara efesien.
            Pada saat kita mengenal seseorang lebih jauh kita akan mengganti skema yang abstrak dengan skema yang lebih khusus tentang orang itu. Instruksi untuk membuat suatu kesan menyebabkan harus mencari beberapa skema yang relevan yang akan membantu mengorganisasi dan mengingatnya lebih baik.
            Informasi pertama yang kita terima mempunyai dampak yang lebih besar terhadap kesan keseluruhan kita yang disebut dengan dampak primasi. Dampak primasi dapat dihambat dengan memberi peringatan pasa subjek tentang resiko membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak cukup. Proses seperti ini kadang-kadang mengakibatkan dampak kebaruan (recency effect).
STREOTIP
Stereotip adalah skema tentang kelompok yang sudah dikenal secara teadisional, dan menimbulkan bias yang tidak sedikit. Stereotip yang berubah merupakan dampak wajar dari cara berpikir kiita yang normal, maka upaya untuk mengubah stereotip dengan hanya meningkatkan jumalh perjumpaan tidak akan terlalu berarti masalahnya sekarang adalah apakah ada kondisi yang menyebabkan stereotipdapat berubah sedemikian rupa sehingga menghasilkan kenyataan baru.
            Dalam kajian para ahli psikologi sosial ada lima kondisi utama yang harus ada sebelum prasangka (Streotip negatif ) dapat terhapus:
1.      Status yang sama antara kedua belah pihak yaitu agar skema dapat berubah menganggap tidak perbadaan diantara  mereka
2.      Potensi untuk mengenal secara pribadi, orang yang mengenal secara pribadi akan menimbulkan penerimaan yang lebih besar dan menghilangkan prasangka.
3.      Kondisi yang ketiga adalah individu yang berprasangka menerima paparan tentang para individu yang stereotip, mereka menyadari bahwa banyak hal yang sama dengan dirinya aspirasi, kesungguhan, serta sikap terhadap tempat mereka bekerja.
4.      Dukungan sosial bagi kontak antar kelompok. Kontak kelompok lebih mungkin mengurangi prasangka jika lingkungan sosial sekitarnya menghargai kesamaan, perlakuan jujur dan kontak antar kelompok
5.      Upaya kerja sama, salah satu faktor yang paling penting untuk mengurangi prasangka adalah situasi yang mengharuskan dua individu atau dua kelompok bekerja sama  dalam rangka mencapai tujuan bersama yang diinginkan.
MENJELASKAN PRILAKU PIHAK LAIN ATAU ATRIBUSI KAUSAL
Atribusi adalah proses bagaimana kita mencoba menafsirkan dan menjelaskan perilaku orang lain.membentuk kesan tentang orang lain merupakan salah satu kegiatan utama dalam berinteraksi sosial. Kegiatan yang lain adalah memahami makna dan sebab prilaku mereka. Setiap kasus yang menimbulkan masalah atribusi kita melihat adanya beberapa prilaku dan kita harus menyimpulkan sebab dari prilaku itu sendiri. Menurut hukum kovarian menyatakan bahwa perilaku berkaitan dengan variabel yang tampaknya berkovari(ada secara bersama-sama)Apakah dampak datang dan hilangnya sebab yang diduga (penyebab) sejalan dengan  keadaan yang ada disebut dengan hukum kovarians. Ada tiga kriteria hukum kovarians :
1.      Kriteria kekhususan yaitu stimulus yang diduga merupakan sebab diambilnya keputusan atau penyebab dari pada masalah.
2.      Kriteria keajekan yaitu gejala yang dianggap sama setel;ah beberapa waktu diperhatikan.
3.      Kriteria konsensus yaitu pendapat yang mengatakan bukan satu-satunya tapi merupakan hal yang sama  terhadap stimulus yang juga terdapat pada orang lain.
KAEDAH PENGABAIAN
Baik fenomena alami maupun prilaku manusia seringkali mempunyai sebab ganda. Bila kita melihat seseorang atlit mempromosikan sejenis makanan ditelevisi, kita tahu bahwa atlit tersebut dibayar untuk menyatakan bahwa makanan yang dipromosikan itu enak bukan karna makanan itu benar-benar enak. Kita tahu bahwa dia dibayar makanya kita mengabaikan sikap atlit tersebut. Kita simpulkan bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang perasaan yang sebenarnya dari atlit tersebut. Srategi ini disebut dengan kaedah pengabaian (discaunting rule) atau dengan kata kita cendrung mengabaikan peran suatu sebab tertentu jika ada sebab lain yang masuk akal.
BIAS DISPOSISI DALAM ATRIBUSI
Salah satu kegiatan utama yang kita hadapi setiap hari adalah menentukan apakah prilaku seseorang yang diamati mencerminkan sesuatu yang khas tentang orang itu. Pertama disebut atribusi internal (atribusi disposisi)  yaitu menyimpulkan bahwa sesuatu tentang orang tersebut tentang apa yang kita lihat(Atlit itu suka makanan tersebut karena memang suka), kita cendrung memberi bobot terlalu berat pada faktor disposisi sedikit sekali pada faktor situasional. Ini disebut kesalahan atribusi yang mendasar
Yang kedua adalah Atribusi eksternal (atribusi situasional) Yaitu penyebab prilaku sesorang disebabkan oleh hal diluar dari diri seseorang(Atlit itu suka makanan itu karena uang misalnya).Atribusi modren menurut Fritz Heiden menyatakan bahwa nilai luar yang terlihat kurang memberikan arti terhadap peristiwa yang disekitarnyaatau tidak memperhitungkan prilaku yang situasional, ahli psikologi memberikan istilah bias untuk atribusi ketimbang situasional.
PERSEPSI DIRI DAN ATRIBUSI
Proses persepsi adalakalanya kita salah Yaitu penilaian tentang diri sendiri, kita mempunyai skema diri terstruktur tentang kepribadian diri sendiri. Dalam proses persepsi  adakalanya kita salah dalam menilai perilaku orang lain karena melakukan kesalahan atribusi mendasar, yaitu adanya bias disposisi.
ATRIBUSI DIRI DAN PEMBENARAN YANG TIDAK MEMADAI
Kita juga kadang kala melihat prilaku kita dan keadaan sekitar kita untuk menentukan perasaan dan keyakinan kita tetapi hal ini kadang kala perasaan internal tidak begitu kuat dan terdorong untuk berperan sebagai pengamat luar hal ini sdisebut dengan atribusi diri dan pembenaran yang tidak memadai.
Teori presepsi diri beranggapan bahwa kita harus sering memutuskan apakah kita memberi atribusi pada prilaku kita merupakan watak kita sendiri atau oleh dorongan situasi. Teori presepsi diri berasumsi bahwa para subjek melihat prilaku mereka dan sekaligus harus memecahkan masalah.
Dampak pembenaran berlebih seorang dapat menyebabkan melakukan kesalahan atribusi mendasar tentang prilaku mereka dengan memberi pembenaran yang tidak memadai atau yang berlawanan dengan memberikan dampak pembenaran yang berlebihan.



PELAKU DAN PENGAMAT
Perbedaan antara atribusi pelaku dan atribusi pengamat adalah :
1.      Pelaku mempunyai kelebihan informasi internal dan informasi historis tentang diri mereka
2.      Pelaku lebih berpeluang untuk mengetahui maksud, sikap dan emosi mereka sendiri
3.      Pelaku lebih berpeluang menilai keajekan dan kekhususan prilaku dalam berbagai situasi
Dari sudut pengamat :
1.      Pengamat dengan sendirinya memusatkan pada aktor dan perhatian khusus  pelaku.
2.      Pengamat menjelaskan prilaku pelaku dengan mengacu pada watak internal.
3.      Pengamat lebih banyak membuat atribusi disposisi.
Adalah hal yang masuk akal bila menghubungkan keberhasilan kita dengan faktor internal dan mengaitkan kegagalan dengan faktor eksternal.
SIKAP
Sikap merupakan rasa suka atau tidak suka terhadap aspek lingkungan yang dikenal, orang, benda, peristiwa atau pikiran .   Para pakar phisikologi social mengkaji sikap sebagai komponen dari system yang terdiri dari tiga bagian, yaitu :
a.      Keyakinan mencerminkan komponen kognitif
b.      Sikap merupakan komponen afektif
c.       Tindakan mencerminkan komponen perilaku
Penelitian tentang sikap telah diarahkan pada 2 masalah utama, masalah pertama berkaitan dengan keajekan diantara keyakinan, sikap dan prilaku seseorang dan yang kedua berkaitan dengan cara yang dapat mengembangkan dan mengubah sikap
KEAJEKAN KOGNIITF
Permis dasar teori keajekan kognitif ialah bahwa semua orang berusaha agar keyakinan, sikap, dan perilakunya tetap ajek dan bahwa tindakan yang tidak ajek berfungsi sebagai pengganngu atau stimulus yang memotifasi kita agar mengubah keyakinan, sikap, dan prilaku sehingga terbentuk paket yang saling bergantian bila tidak dapat dikatakan logis.
a.        Keajekan diantara berbagai keyakinan
Salah satu telaah mutahir tentang keajekan kognitif mengkaji kadar sejauh mana seperangkat keyakinan memang mengikuti kaedah formal. 
Keyakinan atas proposisi yang secara eksplisit disebutkan dalam pesan persuasive sebagaimana yang diharapkan,  terdapat perubahan yang juga signifikan, sekalipun lebih kecil, pada keyakinan yang lebih besar dalam kesimpulan yang tidak disebutkan – sebagai hipotesis keajekan kognitif yang akan diramal. 
b.        Keajekan sikap
Pengamatan bahwa berbagai sikap tampaknya bertalian, karena sikap tersebut berasal dari seperangkat inti nilai telah dikaji secara mendalam oleh Milton Rokeach ( 1968, 1973). Rokeach member batasan nilai sebagai sikap dasar terhadap berbagai bentuk perilaku yang luas (seperti keberanian, kejujuran, persahabatan) atau beberapa kadaan tujuan kehidupan tertentu (seperti persamaan, keselamatan, kebebasan, pemenuhan diri).  Jadi nilai adalah semacam sikap, tetapi mengacu pada tujuan dan bukan alat pencapai tujuan.
c.         Keajekan antara keyakinan dan sikap
Keajekan antara keyakinan dan sikap kita merupakan hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari
d.        Keajekan antara sikap dan perilaku
Alasan utama untuk mempelajari sikap adalah harapan bahwa sikap tersebut memungkinkan kita meramal perilaku.  Perilaku ditentukan oleh banyak factor, sedangkan factor sikap hanya merupakan salah datu faktornya dan factor ini mempengaruhi keajekan sikap – perilaku.  Salah satu factor yang nyata adalah tingkat kendala dalam situasi : kita sering kali harus bertindak dengan cara yang tidak sesuai dengan apa yang kita rasakan atau yang kita yakini.
Kekuatan dan keajekan sikap seseorang juga menentukan seberapa baik hal tersebut dapat meramalkan perilaku mereka.
Dari Perilaku ke Sikap: Teori Disonansi Kognitif
Teori disonansi kognitif mengemukakan bahwa bila tindakan seseorang tidak ajek dengan sikapnya, ketidaksenangan yang diakibatkan oleh disonansi ini menyebabkan orang tersebut mengubah sikapnya agar sejalan dengan tindakannya.
Teori Disonansi versus Teori Perspsi Diri
Teori persepsi diri menyatakan bahwa sikap awal seorang tidak relevan dan tidak ada ketidaksenangan yang dihasilkan oleh perilaku tersebut.  Teori persepsi diri mengajukan penafsiran alternative untuk telaah yang memasalahkan perilaku sebagai penentu sikap: orang-orang mengamati perilaku mereka sendiri dan menyimpulkan bahwa mereka harus menetapkan sikap yang terkandung dalam tindakannya.



DAYA TARIK ANTARPRIBADI
Dari seluruh sikap kita, yang terpenting mungkin adalah sikap kita terhadap orang lain.  Beberapa hasil penemuan menguatkan pendapat yang umumnya telah ada tentang menyukai dan mencintai, tetapi beberapa penemuan lain menghasilkan sejumlah kejutan yaitu ; daya tarik (liking) yaitu persahabatan dan tahap awal dari hubungan yang lebih intim atau cinta.
Hal-hal yang menentukan daya tarik
a.      Kedekatan
b.      Keakraban
c.       Kesamaan
d.      Daya tarik fisik
Hipotesis Perjodohan
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, daya tarik fisik tidak begitu memainkan peran yang penting pada waktu orang mencari jodohnya untuk perkawinan.  Dalam memilih jodoh orang cenderung menjatuhkan pilihan pada orang yang mempunyai penampilan yang hamper serupa. 
Fenomena pencarian jodoh ini biasanya diterangkan melalui teori nilai harapan (expecatancy value theory) dalam pengambilan keputusan.  Analisis ini menunjukkan bahwa orang yang tidak begitu menarik akan mencari orang yang tidak begitu menarik karena mereka beranggapan akan ditolak bila harapannya terlalu tinggi.  Hasil keseluruhan proses bursa jodoh ini adalah penyesuaian daya tarik.
Cinta
Proses yang terjadi dalam perkembangan hubungan dari rasa suka menjadi keintiman yang lebih tinggi disebut penetrasi social.  Hal yang pokok dalam penetrasi social ini adalah penyingkapan diri timbal balik.  Penyingkapan diri sepenuhnya dalam waktu relative lebih singkat diantaranorang-orang yang bercinta yang lebih umum terjadi dewasa ini dibandingkan dengan saat yang silam. 
Pengamatan silang budaya menunjukkan bahwa kekuatan yang mempertahankan hubungan baik dalam jangka waktu panjang tidak begitu banyak berkaitan dengan intensitas cinta romantic dibandingkan dengan kominikasi antara suami istri, pembagian kerja yang wajar, dan kesamaan hak dalam pengambilan keputusan.



PENGARUH SOSIAL
Psikologi sosial merupakan telaah tentang cara kita berpikir, merasa dan bertindak dalam lingkungan sosial sebaliknya, bagaimana pengaruh lingkungan sosial terhadap pikiran, perasaan dan tindakan kita.
Pengaruh sosial memberi konotasi suatu upaya yang sengaja dilakukan beberapa orang atau kelompok untuk mengubah pendapat atau mengganti prilaku contoh :
1.      Siaran iklan untuk mempengaruhi keputusan kita dalam membeli sampai pada upaya yang lebih dramatis untuk meyakinkan konsumen
2.      Usaha yang lebih dramatis lagi adalah usaha keagamaan untuk mempengaruhi para remaja meninggalkan sekolah dan keluarganya untuk mengabdikan dirinya pada misi yang lebih tinggi (hal ini terjadi di Amerika Serikat)
PENGARUH LINGKUNGAN
Pengaruh lingkungan berpengaruh pada prilaku yang tidak begitu kita ketahui, kebanyakan dampak sosial akibat pengaruh lingkungan ini disebabkan oleh : 
1.      Norma sosial
2.      Hukum yang tidak tertulis
3.      Perkiraan tentang apa yang harus ada dalam pikiran kita dan bagaimana  seharusnya berprilaku.
Norma sosial mengajarkan kita untuk melihat kita kedepan, contohnya bila kita sedang naik tangga atau berjalan kita harus lihat kedepan. Norma sosial juga menumbuhkan dan mempertahankan ideologi yang ada di masyarakat seperti rasisme, seksisme.Bentuk pengaruh tersebut sering kali disebabkan oleh norma sosial yang tidak jelas yang kita patuhi tanpa kita sadari.
Dampak yang diakibatkan oleh hadirnya orang lain secara fisik dan kemudian membahas beberapa bentuk pengaruh yang semakin condong pada norma sosial dan pengharapan sosial. Pengaruh sosial merupakan hal yang sentral dalam interaksi manusia dan kehidupan bermasyarakat. Kerja sama lingkungan, altruisme (sifat memperhatikan kepentingan orang lain) dan cita secara keseluruhan menyangkut pengaruh sosial. Akan tetap kita akan menyampingkan fenomena seperti itu dan memusatkan perhatian pada pengaruh yang menyebabkan kita gundah. Selain itu untuk alasan sosial dan historis para pakar psikologi juga telah menekankan untuk menyelidiki pengaruh sosial yang menimbulkan kegelisahan masyarakat. Prinsip pengaruh sosial dapat menimbulkan dampak negatif sama dengan prinsip yang dapat menimbulkan kepekaan masyarakat terhadap berbagai masalah sosial dan dapat menanggulanginya secara efektif. Kehadiran orang lain dapat diharapkan akan mempermudah :
1.      Kemudahan sosial, beberapa telaah yang menggunakan subjek manusia juga menguatkan teeori mengenai kemudahan sosial. Telaah semacam ini merupakan analogi langsung dari telaah lipas yang mengungkapkan bahwa subjek manusia dapat mempelajari seluk beluk yang rumit bilamana ada penonton dibandingkan bila mereka melakukannya tanpa kehadiran orang lain

Banyak terbukti dampak pada manusia tidak hanya disebabkan oleh perasaan bersaing atau yang berkaitan dengan adanya evaluasi dari orang lain yang akan meningkatkan tingkat dorongan. Peniliti mengungkapkan bahwa  kehadiran oorang lain memudahkan pelaksanaan kegiatan yang telah terbiasa dikerjakan akan tetapi akan memperlambat pelaksanaan kegiatan yang tidak biasa dikerjakan/dilakukan.

2.      Deindividuasi dan prilaku kerumunan.
Menurut Gustave Lebon mengambil sikap yang tidak mengenai Koaksi kelompok dalam bukunya “The Crowd”(1895), ia mengemukakan bahwa kelompok selalu lebih rendah (inferior) secara intelektual dibandingkan dengan individu, orang dalam kelompok /kerumunan bersifat berubah-rubah ,mudah hanyut dan tidak toleran, menunjukan kekerasan dan kemarahan orang-orang primitive  . Para wanita, anak-anak,orang liar ,dan kelas bawah yang bekerja dibawah pengaruh saraf tulang belakang. “ Lebon Yakin bahwa perilaku agresif dan tidak bermoral yang diperlihatkan oleh gerombolan yang main hakim sendiri(menurut pandangannya dilakukan pula oleh orang-orang kelas bawah selama revolusi Perancis)

Walaupun jelas terdapat prasangka, pengamatan Lebon tampaknya mengandung kesahihan, imbangan yang modren pada teorinya yang didasarkan pada konsep deindividuasi, suatu gagasan yang semula dikemukakan bahwa kondisi tertentu yang seringkali muncul dalam kelmpok dapat menyebabkan orang-orang mengalami suatu keadaan Psikologis Deinviduasi.
Contohnya: 
-          Orang-orang bergerombol dalam vestival rock akan lebih mungkin melanggar norma sosial
-          Lebih dari 900 orang pengikut aliran kepercayaan pimpinan Jim Jones mentaati perintah pemimpin yang Kharismatik dapat menimbulkan pengaruh yang sangat kuat pada tindakan manusia ( bunuh diri masal di Jonestown, Guyana)
INTERVENSI ORANG LUAR
Kemudahan sosial sekaligus merupakan bentuk primitif pengaruh sosial, sebagian bergantung pada penafsiran seseorang tentang apa yang dikerjakan dan yang dipikirkan orang lain namun seperti yang kita lihat, proses penentuan atau penafsiran situasi itu seringkali merupakan mekanisme yang penting bagi manusia untuk saling mempengaruhi.
Pada tahun 1964 seorang wanita muda, Kitty Genovese dibunuh di luar rumahnya di New York pada larut malam, karna dia melawan, kira-kira ada ada tetangganya mendengarkan teriakan setelah lebih dari setengah jam tetapi tidak seorangpun yang menolongnya.
Pakar psikologi sosial mulai menyelidiki sebab yang semula dia acuh sebagai “ apati orang luar (by stander apathy) “. Dari hasil penyelidikan ternyata bahwa apati bukan merupakan istilah yang akurat. Bukan hanya acuh yang mencegah orang luar untuk turut campur tangan dalam keadaan darurat, tetapi juga hal-hal lain. Dalam kondisi darurat berada pada posisi yang tidak begitu diinginkan.
Menentukan situasi kebanyakan terjadinya keadaan darurat menimbulkan keragu-raguan. Berdasarkan perkembanganlah suatu keadaan yang disebut keacuhan pluraristik yaitu setiap orang dalam kelompok itu menyesatkan orang lain dengan menganggap situasinya bukan keadaan darurat. Sebaliknya kerumunan menghanyutkan setiap orang kedalam keadaan tidak bertindak mungkin malah merupakan hal yang lebih umum.
PERAN INFORMASI
Peran informasi dalam hal ini dicobakan pada mahasiswi S1 diperlihatkan film suatu kejadian tentang intervensi orang luar. Dari hasil ini ada suatu perbedaan yang signifikan secara statistik untuk kepentingan masyarakat umum.
KESESUAIAN KEPATUHAN
PEMBENTUKAN NORMA DALAM SITUASI YANG TAKSA (AMBIGU)
Kaidah yang merupakan konsesus bersama tentang cara berprilaku yang layak dalam berbagai situasi tertentu. Orang biasanya menyesuaikan diri dengan norma seperti itu hampir tanpa merasa adanya tekanan dari luar untuk melakukannya. Sebetulnya kita tetap tidak menyadari sebagian besar norma sosial sampai ada seseorang yang melanggarnya.
Kita sangat menyadari adanya norma sosial bila kita mengunjungi negara lain, mungkin negara yang memandang layak seseorang mengorek hidungnya didepan umum dan memandang bergandengan tangan didepan umum sebaliknya tidak layak.
PENYESUAIAN TERHADAP TEKANAN KHALAYAK
Banyak orang menafsirkan telaah sherif sebagai anggapan bahwa manusia adalah spesies yang secara membabi buta menyesuaikan diri, suatu anggapan yang merisaukan pakar psikologi sosial lain saat itu.
Dalam situasi seperti itu menggunakan orang lain sebagai suatu kerangka acuan  tampaknya masuk akal.
Situasi  jauh lebih ekstrim. Disini individu dihadapkan pada ketidak sepakatan yang bulat tentang fisik yang sederhana, peristiwa ganjil yang tidak pernah terjadinya sebelum.
Kepatuhan pada Pennguasa ( pimpinan )
Tingkat kepatuhan terhadap pimpinan merupakan suautu hal yang di perlukan dalam suatu kelompok. Hal ini di buktikan dengan percobaan yang di lakukan oleh Stanley Milgram  ( 1963, 1974) Ia membuktikan bahwa kepatuhan terhadap  penguasa/ pimpinan  merupakan perdyaratan penting untuk hidup bermasyarakat yan mungkin telah terbentuk melalui  evoluasi.
Ada lima faktor yang memungkinkan orang untuk melepasakan otonom dan kemudian secara sukarela  menjadi sistem yang ada. Yaitu :
a.      Jenjang Keterperangkapan
Seseorang yang sudah masuk pada suatu sistem tertentu maka ia akan sulit untuk menghentikannya. Artinya setelah subjek masuk dalam sebuah keterperangkan maka ia akan teruss melakukannya prilaku yanng di inginkan , sehingga kepatuhan ini akan timul
b.      Etiket situasi
Subjek  sudah terikat pada suatu situasi yang mengharuskan untuk melakuukan dan petuh terhadap apa yang di perintah oleh penguasa.
c.       Buffer ( Penahan )
Seseorang melaksanakan  kepatuhan terhadap penguasa di karenahan adanya  suatu penahan yang memungkinkan seorang tidak secara langsung membuat suatu perintah serta tidak langsung menanggung resiko yang tetrjadi.
d.       Pengawasan
Pengawasan langsung dari penguasa akan meningkatkan tingkat kepatuhan oleh subjek.
e.      Kekuasaan dan ideologi overarcing
Faktorr penting  yanag menimbulkan kepatuhann adalah  penerimaan akan sebuah ideologi yang mengabsahkan kekuasaan  orangyang berkuasa dan membenarkan instrukdinya.

PSIKOLOGI LINGKUNGAN
Di dasari pada suatu  sikap saling mempengaruhi dengan berbagai cara, dan juga lingkungan fisik  turut mempengaruhi  kita.  Sehingga timbulan kajian tentang psikologi Lingkungan. Salah satu  kajian dari psikologi lingkungan adalah mengetahui dampak  kebisingan dan  kepadatan penduduk.
a.        Dampak Kebisingan
Kebisingan  baik yang permanen maupun yang tidak permanen mempengaruhi tingkat kosentrasi dan kinerja seseorang terutama dalam  menyelesaikan lebih dari satu tugas.
Kebisingan yang tidak di ramalkan  meengakibatkan kesalahan yang lebih banyak dari pada kebisingan atau kegaduhan yang  permanen.
Salah satu upaya untuk bisa  mengurangi dampak negatip adalah dengan  “Pengendalian”.  Suatu penelitian mengungkapkan bahawa siswa yang sekolah di lingkungan yang bising ( di Kota Besar ) mempunyai tekanan darah yang lebih tinggi dan  mudah mengalami kekacauan pikiran di banding dengan siswa yang sekolah di lingkungan  tenang  ( di perkampungan )
b.      Dampak kepadatan manusia
Suatu penelitian dengan  subjek hewan menyimpulkan bahwa dampak dari kondisi yang penuh sesak adalah  meningkatnya gresifitas, prilaku abnormal, gaangguan fisik, pengabaian bayi dan kematian yang tinggi.
Korelasi dengan kepadatan penduduk adalah berkorelasi positip  dengan penyakit jiwa. Dan timbulnya tindak kejahatan.
Kepadatan penduduk di bagi menjadi dua yaitu kepadatan luar  atau di kenal denga kepadatan  ( jumlah orang / Km ) dan kepadatan dalam ( jumlah orang dalam satu rumah )
Kepadatan dalam lebih berkorelasi dengan tanda penyakit sosial , satu penelitian mengungkapkan bahwa kepadatan dalam satu  kamar di suatu rumah  berkorelasi positip dengan rata-rata kematian dan kejahatan remaja yang lebih tinggi.
Namun demikian  teori ini  masih terbantahkan oleh teori-teori yang mengungkapkan  bahwa kepadatan orang dalam satu rumah tidak berkorelasi dengan tingkat kejahatan.
Timbulnya frustasi  karena kepadatan dalam suatu rumah adalah karena ketidak mampuan mengatur jumlah, waktu dan sifat perjumpaan sosial. Hal ini membuktikan bahwa  tidak adanya kendali  seseorang  atas lingkungan  menyebabkan perasaan tidak berdaya yang pada gilirannya akan mengakibatkan orang itu menarik diri dan tidak lagi  berupaya walaupun di tempatkan pada situasi yang lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar